Mengenal Politik Dalam Islam

Ilmu atau teori politik Islam bersumber dan diderivasi dari Alquran. Mungkin ini dianggap klaim berlebihan, tetapi sebenarnya tidak juga. Sebab politik menyangkut banyak bidang kehidupan, sedangkan ayat-ayat dalam Alquran banyak membicarakan masalah kehidupan sosial termasuk politik. Meski ayat-ayat itu baru berupa semisal konsep, namun jika dipahami dengan penalaran yang cerdas akan ditemukan prinsip luhur berpolitik. Konsep-konsep semisal dalam ayat-ayat itu berkaitan antara satu dengan yang lain dan membentuk struktur konsep yang sistemik.

Sebagai contoh konsep khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30, QS. An-Nur: 55, QS. An-Naml: 62, QS. As-Shad: 26, QS. Al-An’am: 165), berkaitan erat dengan konsep hukum dan keadilan (QS. An-Nisa: 58, 105, 135, QS. Al-Maidah: 6) dan juga kepemimpinan (QS. Ali-Imran: 118, QS. An-Nisa: 49, QS. Asy-Syu’ara: 15-152). Masalah kepemimpinan berkaitan dengan masalah musyawarah (QS. Ali-Imran: 159, QS. As-Suraa’: 38). Prinsip persatuan dan persaudaraan (QS. Ali-Imran: 103, QS. Al-Hujurat: 10) berkaitan dengan prinsip persamaan (QS. An-Nisa: 1), tolong-menolong, membela yang lemah (QS. Al-Maidah: 2, QS. At-Taubah: 11, QS. Al-Balad: 12-16), perdamaian dan peperangan (QS. An-Nisa: 89-90, QS. Al-Anfal: 61) dan lain sebagainya yang sangat komplek, sekompleks kehidupan manusia itu sendiri (Hamid Fahmy Zarkasyi, ISLAMIA, Identitas dan Problem Politik Islam, Vol. V, 2009: 5-6).

فَقَدْ آتَيْنَا آلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَآتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا (٥٤)

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan Hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar” (QS. An-Nisa: 54).

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الأرْضِ أَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الأمُورِ (٤١)

Artinya: “(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan” (QS. Al-Hajj: 41).

 

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الأمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا (٥٨)

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat” (QS. An-Nisa: 58).

Makna kerajaan, kedudukan, hukum, dan keadilan sebagaimana telah tertulis dalam ayat-ayat di atas adalah makna-makna yang mewakili makna politik. Menurut Muhammad Elvandi, politik yang berarti pengelolaan urusan manusia sangat memadai untuk kalimat-kalimat tersebut, juga untuk makna-makna serupa yang sangat banyak di dalam Alquran. Betul bahwa istilah politik atau as-siyasah tidak tercantum di dalam Alquran, tetapi prinsip-prinsip politik sangat ditekankan di dalamnya sebagai pegangan manusia dalam berinteraksi di tengah masyarakat luas.

Jika dalam Alquran terdapat esensi politik walau tidak ada sama sekali istilah politik atau as-siyasah maka dalam Hadits, politik dalam konteks pengeloaan manusia terdapat dalam Hadits riwayat Imam Bukhari dari Abu Hurairah r.a.:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الأَنْبِيَاءُ

Artinya: “… (Zaman dahulu) Bani Israil itu dipimpin oleh para Nabi”.

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathu Al-Bari, sebagaimana dinukil oleh Muhammad Elvandi bahwa kata yasusu yang menjadi akar kata as-siyasah dalam Hadits shahih tersebut menunjukkan bahwa masyarakat harus memiliki seseorang yang mengelola dan memimpin masyarakat ke jalan yang benar, dan membela yang teraniaya dari para pelanggar.

Siyasah (politik) secara bahasa berarti mengelola, mengatur, memerintah, dan melarang sesuatu. Yusuf Qardhawi mengartikan politik adalah semua yang berhubungan dengan pemerintahan dan pengelolaan masyarakat madani. Kemudian Abdul Wahab Khallaf mendefinisikan siyasah sebagai pengelolaan masalah umum bagi Negara bernuansa Islam yang menjamin terealisasinya kemaslahatan dan terhindar dari kemudharatan dengan tidak melanggar ketentuan syariat. Selanjutnya dalam buku As-Siyasah Al-Hakimah, sebagaimana dinukil oleh Abdul Hamid Al-Ghazali dalam bukunya yang berjudul “Pilar-pilar Kebangkitan Umat” dijelaskan bahwa Ibnu Qayyim mendefinisikan politik adalah semua aktivitas yang mendekatkan manusia kepada kemaslahatan dan menjauhkan dari kerusakan, meskipun tidak pernah ditegaskan oleh Rasul dan tidak pernah disinggung oleh wahyu yang diturunkan, karena semua jalan yang bisa mengantarkan kepada keadilan, maka jalan itu adalah bagian dari agama ini (Islam).

Dalam tradisi Arab, orang yang memegang kekuasaan secara politik adalah orang yang mengurusi urusan rakyat, mengaturnya, dan menjaganya. Kemudian yang lebih menarik adalah bahwa ternyata politik itu tidak identik dengan kekuasaan dan memanfaatkan orang lain untuk kepentingan pribadi atau golongan. Dalam kitabMu’jamu Lugghatil Fuqaha jilid 1, hal: 237, sebagaimana dinukil oleh Jasiman, bahwa dalam hal siyasah ada dua kata kunci yang dapat diambil dari kamus bahasa para fuqaha, yaitu cinta dan pelayanan.

Dalam sejarah peradaban Islam, telah banyak ulama-ulama klasik yang menulis berkaitan dengan masalah politik. Seperti Ibnu Abi Rabi (w. 842M) menulis buku berjudul Suluk al-Malik fi tadbir al-Mamalik, Al-Farabi (w. 339H/ 950M) menulis buku Ara Madinat al-Fadhilah, Al-Mawardi (w. 450H/ 1058M) yang menulis teori politiknya dalam buku berjudul Al-Ahkam al-Sultaniyah, Al-Ghazali (w. 505H/ 1111M) menulis buku berjudul Al-Tibrul Masbuk fi Nasihat al-Muluk, dan Ibnu Taimiyyah (w. 728H/ 1328) menulis buku Al-Siyasah al-Syar’iyyah.

Islam sebagai agama yang komprehensif telah banyak berbicara terkait seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk politik. Oleh karenanya antara agama dan politik tidak ada sekularisasi (pemisahan). Sebagaimana pandangan seorang ulama kontemporer, yaitu Hasan Al-Banna, bahwa politik tidak terlepas dari Islam. Hal demikian berangkat dari pemahamannya bahwa Islam mencakup dan mengatur seluruh aspek kehidupan manusia di mana politik adalah sebagian diantaranya. Memisahkan agama dari politik atau memisahkan politik dari agama sama saja dengan memisahkan agama ini dari kehidupan sebagaimana yang dilakukan oleh kaum sekuler. Atas dasar itu, secara tegas Hasan Al-Banna mengatakan bahwa seorang muslim tidak akan sempurna keislamannya kecuali bila ia menjadi politikus, memberikan perhatian terhadap problematika umat, dan peduli kepadanya. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa setiap organisasi keislaman harus menjadikan kepedulian terhadap problematika politik umat sebagai program utamanya, dan bila tidak maka ia sendiri masih perlu untuk memahami Islam itu sendiri.

Sumber : Dakwatuna

Wisata di Kota Tua Semarang

    



 Semarang merupakan ibu kota dari Provinsi Jawa Tengah dimana banyak sekali menawarkan keunikan sebuah kota tua. Kota tua di Semarang memperlihatkan bagaimana suasana kota yang bernuansa zaman dahulu. Sekarang kota tua sudah berubah menjadi daerah kunjungan wisata baik dalam negeri maupun luar negeri. Dengan tetap mempertahankan arsitektur dan suasana zaman dahulu ini yang memberikan rasa ketertarikan pengunjung dari berbagai daerah.

    Dengan banyaknya bangunan yang berarsiterktur eropaini menandakan bahwa dulu pengaruh pemerintahan kolonial belanda memberikan dampak juga pada proses pembangunan sebuah kota tua di Semarang yang menjadi pusat perdagangan dan ekonomi Hindia Belanda. Dengan penambahan spot-spot foto yang untuk selfie menambah ketertatarikan untuk generasi muda untuk mengeksplor keindahan kota tua.




Bupati Subang Jangan Tergoda Angin Segar Kawasan Industri

 



Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat (Jabar) Ono Surono 'menjewer' salah seorang pengurusnya yag juga Bupati Subang H Ruhimat terkait program kerja.

Menurut Ono, Bupati Subang dan jajarannya untuk tidak tergoda dengan kawasan industri yang bakal hadir di Kabupaten Subang. Sebab, kondisi tanah air saat ini adalah terjadi rawan terjadi krisis pangan dan bahan pangan yang meningkat.

"Pertanian harus tetap menjadi perhatian, itulah yang menjadi tulang punggung pangan bagi Subang saat ini juga nasional," ucap Ono di Subang, Sabtu (16/4).

Hal ini tak lain berkaca dari kasus Karawang yang masuk menjadi 5 daerah di Jawa Barat yang menjadi daerah rentan kemiskinan.

Kita lihat Karawang, kawasan industri banyak, UMR nya juga salah satu yang tertinggi nasional, tapi kini jadi Kawasan dengan Kemiskinan Ekstrem, setelah 5 daerah pada tahun 2021 di Jabar, kini meningkat jadi 17 Kabupaten/Kota,” terang Ono.

Hal ini merupakan hasil dari alih fungsi lahan ke zona/kawasan industri yang tak berjalan lancar serta pertanian warga lokal yang justru sedikit terserap dan diberdayakan dalam kawasan industri.

“Banyak orang luar Karawang yang bekerja di Karawang, sedangkan banyak orang Karawang yang juga tersisih, dengan berbagai macam alasan seperti tak punya skill. Tapi seharusnya, warga sekitar kawasan industri yang merupakan warga Karawang mendapat prioritas, imbas yang terjadi sekarang,” imbuhnya.

Mendapat pesan tersebut, Bupati Subang H Ruhimat juga menyambut baik saran dan masukan tersebut. Pertanian juga menurut Ruhimat masih menjadi prioritas bagi Pemkab Subang.

Namun di sisi lain, Bupati bersungguh-sungguh ingin mempersiapkan agar perubahan Kabupaten Subang dimasa depan menjadi zona industri harus dipersiapkan dengan maksimal. diucapkan juga berkali-kali dijelaskan, tak ingin warganya menjadi penonton sendiri.

“Tentu kita harus berusaha, termasuk dengan melakukan pelatihan-pelatihan melalui Balai Latihan Kerja (BLK). Kita akan berusaha untuk menyiapkan SDM, saya tentu tidak ingin warga hanya jadi penonton dengan datangnya zona industri besok,” ucap Ruhimat.


Sumber : Tintahijau.com

RAMADHAN BULAN JIHAD LITERASI

 

Membaca merupakan sesuatu yang sangat sulit bagi beberapa kalangan yang ada di tanah air. Mereka lebih senang bermain games online, makan dan belanja di mall, serta lebih banyak dihabiskan untuk hal yang tidak bermanfaat. Membaca belum menjadi suatu budaya yang ada di tanah air Indonesia dan perlu kerja keras untuk menajamkan masalah literasiatau membaca. Apalagi persoalan untuk membaca Al Qur'an yang masih sangat jauh dari kebiasaan yang diajarkan Rosullah.

Bersyukur kita bertemu di dalam bulan suci ramadhan  yang di dalamnya merupakan bulan diturunkan Al Qur'an. Momentum bagi kita untuk kembali mempelajari dan membaca Al Qu'an secara tartil. Karen tak jarang waktu kita dihabiskan untuk kegiatan yang terkadang hanya masalah duniawi saja.

Saking mulianya bulan suci Ramadhan, maka semua kitab suci agama surga diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi dan Rasul-Nya untuk dijadikan pedoman dan acuan dalam menasihati agar taat beribadah kepada-Nya. Serta menjadi tempat ibadah untuk mengarungi samudra kehidupan di dunia yang fana ini serta untuk mengenal dan memahami Tuhan yang disembah-Nya.

Surat Al Baqarah ayat 185 menjelaskan keistimewaan bulan Ramadan. Salah satunya sebagai bulan diturunkannya Al Quran pertama kali.

Artinya: “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan tentang petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil). Oleh karena itu barang siapa di antara kamu berada di Dan barang siapa yang sakit atau dalam perjalanan (tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya, pada hari-hari lainnya. Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesulitan bagimu. bilangan itu dan bertasbihlah kepada Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”

Kitab suci Al Quran yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir dan penutup risalah kenabian. Al-Qur'an juga merupakan wahyu dan kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW melalui syafaat malaikat Jibril dan disampaikan kepada umat manusia untuk menjadi pedoman dan pedoman dalam kehidupan di dunia ini. Sehingga sebagai pedoman perlu dibaca dan dipahami secara mendalam dalam memperkuat keimanan kepada Allah SWT.

Rasulullah (saw) berkata: "Dan tidak suatu kaum berkumpul dalam satu rumah dari rumah-rumah Allah (masjid), mereka membaca Kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka sendiri, kecuali perdamaian akan turun atas mereka, cinta akan menyelimuti mereka, para malaikat akan melindungi mereka, dan Allah akan menyebut mereka di antara makhluk-makhluk yang berada di sisi-Nya". (HR.Muslim)

Pembiasaan membaca alquran dan membaca buku menjadi kunci dari pengembangan karakter remaja yang masih menjadi siswa dan mahasiswa. Pembiasaan yang dapat terekam dalam ingatan dan memorinya otaknya dapat membangun rangsangan berfikir untuk menjadikan literasi atau membaca sesuatu hal yang penting buat giat kehidupannya pada masa yang akan datang. Hal ini juga merupakan bagian pembelajaran kehidupan di masyarakat.

Al-Qur'an sebagai pedoman hidup manusia yang kemudian diturunkan melalui Nabi saw di Gua Hira. Ayat pertama yang difirmankan Allah swt telah menjelaskan pentingnya literasi dalam kehidupan, khususnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan. ALalaq ayat 1-5: “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Penyayang. Yang mengajar (Manusia) dengan pena. Dia mengajari manusia apa yang dia tidak tahu.".

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan bahwa Alquran adalah bentuk kata benda infinitif (mashdar) dari kata qara`a yang bermakna membaca atau mengumpulkan. Jika Alquran berasal dari Kata qora'a atau iqra yang bermakna membaca, maka Alquran berarti bacaan, sedangkan jika berasal dari kata qara`a yang bermakna mengumpulkan, maka Alquran berarti kumpulan, karena Alquran itu berisi kumpulan kisah-kisah dan hukum Pengertian secara bahasa ini telah menggambarkan bahwa al-Quran berkaitan dengan kegiatan pembelajaran, pendidikan, dan pengajaran yang antara satu ayat dan ayat lainnya merupakan satu kesatuan yang saling menjelaskan dan menafsirkan satu sama lain. 

Di dalam proses pembelajaran dan pengajaran serta pendidikan Al Quran itu menjadi rujukan kebenaran bagi tuntunan kehidupan umat manusia. Al Quran menjadi petunjuk bagi umat Islam dalam rangka memproleh kebahagiaan dan keselamatan hidup manusia serta manusia memperoleh ilmu pengetahuan.

Kebenaran ilmu pengetahuan dan hakekat ilmu pengetahuan itu ada dua sumber yaitu pertama ayat al matluwah (yang dapat dibaca) yakni Al-Qur'an dan kedua ayat al-Majluwah (yang dapat dilihat)

yakni alam semesta keduanya bersumber dari Allah ayat al-matluwah adalah firmannya dan ayat al-Majluwah adalah ciptaannya. Inilah hakekat ilmu pegetahuan yang tak terbatas.

Diantara kandungan makna Al-Qur'an yang di dalamnya terdapat mukjizat, tanda atau alamat, pelajaran atau peringatan, suatu hal yang menakjubkan, kelompok atau kumpulan, dan dalil. Misalnya kisah Nabi dan Rasul, kisah raja-raja Fir'aun, dan kisah-kisah lainnya. Secara istilah ayat diartikan sebagai bilangan dan istilah kalam yang memiliki “mengikat ilmu dengan tulisan” Allah yang tertuang dalam sebuah surat Al-Qur'an. Sedangkan arti surah ditinjau dari sisi etimologis adalah manzilah atau kedudukan. Dan surah secara terminologi berarti sejumlah ayat Al-Qur'an yang memiliki awal dan akhir.  

Di dalam Al Quran terdapat kisah atau peristiwa pembelajaran sebagai bahan renungan untuk manusia dan peserta didik. Agar peristiwa itu diikat dengan ragam pengetahuan untuk ditulis secara metodologi ilmiah. Sehingga peristiwa memiliki suatu kedudukan yang berarti dalam perjalanan kehidupan manusia di dunia yang mempunyai suatu fase permulaan dan fase berkesudahan.

Membangun tradisi literasi berarti dia membangun kemampuan seseorang untuk dapat mengenal, memahami dan berkomunikasi. Sehingga akan terbangun suatu ketrampilan pengetahuan tentang membaca (bacaan), memproduksi teks (dengan menulis), dan memperoleh alat-alat dan kapasitas intelektual agar dapat berpartisipasi dalam budaya dan lingkungannya.

Tujuannya adalah dengan berliterasi Al Quran manusia dalam hal ini peserta didik dapat membangun komunikasinya secara lebih dalam dan dekat dengan Allah sebagai penciptanya. Pada sisi yang lain dapat membangun motivasi keberagamaan hidupnya dalam mempelajari ilmu pengetahuan lainnya. Sehingga terjadi keseimbangan dalam membangun dan mengembangkan karakternya.

Momentum Jihad literasi perlu digelorakan seluruh komponen umat Islam agar paham dan mengerti maksud dari kandungan ayat dalam al qu'an. Walaupun dalam prosesnya semangat jihad literasi memiliki perbedaan pada akhirnya dalam menafsirkan suatu ayat, teks dalam alquran. Jihad untuk membersamai al quran dalam mengkokohkan dan mendekatkan diri kepada Allah. Serta membangun paradigma berfikir secara utuh dan menyeluruh dalam memahami dinamika persoalan kehidupan.

Proses membangun ketrampilan berliterasi dapat ditandai dengan delapan kemampuan literasi informasi yang meliputi : identify, explore, select, organize, create, present, assess, dan apply (mengidentifikasi, mengeksplorasi, memilih, mengatur, membuat, mempresentasikan, menilai, dan menerapkan). https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php/murabby

Ketrampilan pertama identify artinya mengidentifikasi pengenalan huruf dalam alquran, pengenalan tajwid serta arti kandungan dalam alqur'an. Dalam tahap ini pentingnya peran guru yang mengerti tentang huruf, tajwid dan arti dalam alquran. Setelah itu belajar sendiri dengan bantuan buku atau sumber teks yang terdapat dalam internet.

Kedua. Explore atau mengeksplorasi artinya belajar mengeluarkan bacaan hurufnya harus sesuai dengan maksud keluar hurufnya. Ketiga select atau memilih belajar membaca huruf yang mudah untuk dikuasai. Keempat organize atau mengatur keluar masuknya huruf yang sesuai dengan makhroj. Kelima create atau menulis huruf-huruf arab itu dengan cara menyalin. Keenam present atau mempresentasikan antara bunyi huruf dengan tulisannya. Ketujuh menilai atau assess artinya menilai sampai dimana penguasaan materi berupa huruf arab dalam al quran beserta artinya. Kedelapan apply atau menerapkan artinya ilmu literasi dalam al quran perlu diterapkan dalam kegiatan belajar ilmu yang lain.

Proses literasi alquran diharapkan membumi dalam kehidupan masyarakat. Al Quran betul-betul dijaga dan dirawat dengan cara membaca, memahami bahkan menghafalnya,Kedekatan al quran perlu dibangun dengan berbagai macam, ketrampilan pembiasan membaca. Sehingga akan terbangun suatu suasana yang adem dan nyaman dengan suara-suara ayat suci Al Quran.

Pesan-pesan yang ada dalam kandungan teks ayat suci Al Quran harus dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Kunci-kunci kehidupan agar kita hidup bahagia dan penuh kenyamanan perlu direfleksikan dan diejawantahkan dalam sikap membersamai Al Quran. Kunci kehidupan yang ada dalam teks Al Qur'an perlu dibuka setiap waktu dan setiap saat pada saat kita saat susah atau pada saat kita senang. Di dalamnya terdapat obat penghibur dan doa untuk kita jadikan renungan dalam menjalani kehidupan.

Momentum Ramadhan dimanfaatkan untuk kegiatan besar literasi Alquran dan literasi dengan bahan bacaan atau buku yang menunjang ilmu pengetahuan. Literasi digital juga perlu dimobilisasi menggunakan alat yang sering digunakan. Menggunakan tools dan ketersediaan internet memudahkan kita untuk menemukan konten yang bisa digunakan untuk belajar.

Ada beberapa hal yang perlu kita kembangkan dalam memulai literasi, Pertama mulailah dari diri sendiri disertai dengan niat untuk mencari keberkahan dan kemulian dari literasi Al Quran dan literasi pengetahuan yang lain. Tajamkan niat dan kokohkan hati untuk selalu membersamai Al Quran untuk belajar sepanjang hayat. Kedua. Mulai dari hal yang kecil kita belajar literasi Al Quran mulai dari belajar mengenal huruf, melafalkan bunyi huruf, membacanya secara tartil, menghafal kemudian membaca artinya. Semua itu perlu pelan-pelan tidak asal dalam mempelajarinya. Ketiga. Mulai saat ini artinya literasi Al Quran perlu disegerakan jangan ditunda untuk mempelajarinya. Di dalamnya terdapat sumber pengetahuan dan tuntunan kehidupan di dunia dan akhirat kelak.

Kita sebagai manusia yang butuh berinteraksi dengan Kalam Allah yaitu Al Quran setiap waktu dan setiap saat. Butuh pengorbanan tenaga, biaya serta usaha yang sungguh-sungguh dalam mempelajari Al Qur'an. Kita yang mendatangai Al Quran dengan membacanya walaupun terbata-bata bukan sebaliknya Al Quran yang mendatangi kita. Karena pada prinsipnya ilmu itu perlu didatangi dan dihampiri bukan sebaliknya.

Sumber : Kompasiana

Pemerintah Memutuskan Harga Minyak Goreng Mengikuti Mekanisme Pasar

     Pemerintah Indonesia akhirnya memutuskan untuk harga minyak goreng mengikuti mekanisme pasar. ditengah kelangkaan minyak yang masih terjadi dibeberapa daerah, dengan kebijakan tersebut maka harga minyak kemasan tidak lagi mengacu pada Harga Eceran Tertinggi (HET), yang mengacu pada keputusan Menteri Perdagangan nomor 6 Tahun 2022 yang berlaku pada 1 Februari lalu, dimana HET minyak kemasan premium diangka 14.000/liter.

    Dalam rencana tersebut pemerintah mempertimbangkan karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan minyak goreng curah, untuk soal minyak kemasan dibiarkan untuk mengikuti mekanisme harga pasar. Jadi nanti kita akan jaga harga eceran tertinggi minyak curah sementara masyarakat yang akan membeli minyak kemasan bisa menyesuaikan dengan kebutuhannnya.

    Dengan kebijakan penyerahan pada mekanisme pasar, akan juga menimbulkan dampak yang signifikan juga karena hari ini masyarakat kebanyakan sudah menggunakan minyak kemasan, kerena sudah meningkatnya kesadaran akan pola hidup sehat. Semoga pemerintah bisa mengkaji lebih dalam lagi terkait kebijakan yang telah dibuat terkait penghapusan HET minyak kemasan.

BANDUNG BJB TANDAMATA KALAHKAN GRESIK PUPUK PETROKIMIA PADA GRAND FINAL PRO LIGA

 

Bandung BJB Tandamata mampu ungguli Gresik Pupuk Petrokimia pada grand final Pro Liga 2022

Pada tanggal 11 Maret 2022, pertandingan  laga final voli Pro Liga antara BJB Tanda Mata dengan Gresik Petrokimia pertandingan berlangsung sangat sengit, pertadingan dilaksanakan di  Padepokan Voli Jenderal polisi Kunarto di Sentul Jawa Barat. Dalam ajang Proliga 2022 pertemuan antara  Gresik Pupuk Petrokimia dengan Bandung BJB sudah berlangsung dua putaran, yang pertama yang pertama pada tanggal 15 Januari 2022 dengan kemenangan GPP  dengan skor 3-1. Lalu pada putaran kedua, pada minggu 6 Maret 2022, Gresik Petrokimia kembali unggul dengan skor3-2, yaitu 25-21, 11-25, 25-23, 27-29 dan 15-13.

 Pada babak pertama permainan menyerang GPP mampu menekan pemain BJB yang belum menemukan ritme permainan terbaiknya pada babak pertama GPP 1-0.  Pada babak kedua Bandung BJB memberikan perlawanan dengan baik, namun sayang dewi fortuna masih milik GPP yang berarti keunggulan untuk  skor 2-0. Pada Babak ketiga dan keempat BJB Bandung mampu membalikan keadaan sehingga menyamakan skor 2-2. Pada Babak penentuan kedua tim saling serang dengan saling mengejar poin, Bandung BJB mampu mempertahankan jarak sehingga skor kemenangan jadi untuk Bandung BJB dengan skor akhir 15-11 untuk kemenangan.

Perlu diketahui bahwa skema final four mengingat sekarang masih pada masa pandemi covid-19. Dua tim teratas akan bertemu di grand final pada tanggal 26 dan 27 Maret 2022. Untuk tim putri mencakup Jakarta Pertamina Fastron, Bandung BJB Tandamata, Jakarta Mandiri Popsivo dan Gresik Petrokimia Pupuk.

PERSIB SIAP SALIP BALI UNITED DIPAPAN KLASEMEN

 


    Denpasar- Putaran liga 1 semakin menarik dimana persaingan 5 tim papan atas yang saling kejar mengejar poin. Pada hari Rabu tanggal 09 Maret 2022 tersaji laga adu gengsi antara Persib Bandung melawan Arema Malang. Dalam pertandingan ini kedua tim berambisi meraih tiga angka untuk mempersempit jarang dengan pemuncak klasemen sementara yaitu Bali United. Pada pertandingan malam ini kedua tim saling jual beli serangan.

            Pada awal babak Persib menerapkan permainan high pressing  kepada Arema Malang, terbukti pada menit ke-7 Mark Klok hampir membobol gawang Arema, tapi sayang tendangannya masih bisa dihadang pemain lawan. Beberapa kali Persib mendapatkan peluang hasil dari tendangan bola mati yang dilakukan oleh pemain veteran Mark Klok. Arema kemudian juga membalas serangan Persib, pada menit ke-17 hampir saja Carlos Fortes membobol gawang Teja Paku Alam, namun sayang sontekan darinya mampu dimentahkan oleh Teja dengan sangan brilian.

            Pada babak kedua permainan masih berlangsung panas, Arema mampu memanfaatkan peluang pada menit ke-53 lewat bola soloran Rafli yang kemudian bola diceploskan oleh Jayus Hariono, pemuda yang berposisi sebagai Bek Arema Malang. Persib tidak kehilangan asa, beberapa kali percobaan yang dilakukan Persib membahayakan pertahanan Arema Malang.

            Petaka awal untuk Arema hadir pada menit ke-71 dimana bola umpan dari Freth Butuan disambut dengan sundulan tajam oleh Bruno yang menjadi gol penyama kedudukan 1-1 untuk Persib Bandung. Tidak hanya sampai disitu saja, Persib meningkatkan intensitas serangan dan terbukti berhasil pada menit ke-82  lewat tendangan sepak pojok oleh Rasyid yang kemudian di free header oleh Bruno dan menjadi gol penentu kemenangan persib Bandung atas Arema Malang dengan skor akhir 2-1, yang mana atas kemenangan ini Persib menambah pundi 3 poin yang menyamai jumlah poin pemuncak klasemen Bali United yaitu 63 poin. Sementara Arema harus puas di posisi ke-3 dengan jumlah poin 58.


Penulis : Lugina Sariama Lala Mugia, S.Pd.

Dari Gerakan Ke Negara

     Rencana itu terlalu halus untuk dideteksi secara dini oleh para pemimpin musyrik Quraisy.Tiba-tiba saja Makkah terasa lengang dan sunyi. Ada banyak wajah yang terasa perlahan-lahan enghilang dari lingkungan pergaulan. Tapi tidak ada berita. Tidak ada yang tahu secara pasti apa yang sedang terjadi dalam komunitas Muslim di bawah pimpinan Rasulullah SAW. Ini memang bukan rencana yang bisa dirahasiakan dalam waktu lama. Orang-orang musyrik Makkah akhirya memang mengetahui bahwa kaum Muslimin telah berhijrah ke Madinah. Tapi setelah proses hijrah hampir selesai. 
     Maka gemparlah penduduk Makkah. Tapi sebuah episode baru dalam sejarah telah dimulai: sebuah gerakan telah berkembang menjadi sebuah negara, dan sebuah negara telah bergerak menuju peradabannya; sebuah agama telah menemukan “orang-orangnya”, setelah itu mereka akan menancapkan “bangunan peradaban” mereka. Tanah, dalam agama ini, adalah persoalan kedua. Sebab yang berpijak di atas tanah adalah manusia maka di sanalah Islam pertama kali menyemaikan dirinya; dalam ruang pikiran, ruang jiwa, dan ruang gerak manusia. Tanah hanya akan menjadi penting ketika komunitas “manusia baru” telah terbentuk dan mereka membutuhkan wilayah teritorial untuk bergerak secara kolektif, legal, dan diakui sebagai sebuah entitas politik. 
    Karena tanah hanya merupakan persoalan kedua maka tidaklah heran bila pilihan daerah tempat hijrah diperluas oleh rasulullah SAW. Dua kali sebelumnya, kaum Musimin, dalam jumlah yang lebih kecil, berhijrah ke Habasyah (Ethiopia), baru kemudian berhijrah keseluruhan ke Madinah. Tapi, ketika kaum Muslimin sudah berhijrah seluruhnya ke madinah, mereka yang sebelumnya telah berhijrah ke Habasyah tidak serta merta dipanggil oleh Rasulullah SAW. Mereka baru menyusul ke Madinah lima atau enam tahun kemudian. Ketika mereka tiba di Madinah, di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib, kaum Muslimin baru saja memenangkan perang Khaibar, sebuah peperangan yang sebenarnya mirip dengan sebuah pengusiran, menyusul pengkhianatan kaum Yahudi dalam perang Khandaq. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda, “Aku tidak tahu dengan apa aku digembirakan oleh Allah; apakah dengan kemenangan dalam perang Khaibar atau dengan kedatangan Ja’far?” Dari Gerakan Ke Negara Hijrah, dalam sejarah dakwah Rasulullah SAW adalah sebuah metamorfosis dari “gerakan” menjadi negara.
     Tiga belas tahun sebelumnya, Rasulullah SAW melakukan penetrasi sosial yang sangat sistematis, di mana Islam menjadi jalan hidup individu; di mana Islam “memanusia” dan kemudian “memasyarakat”. Sekarang, melalui hijrah, masyarakat itu bergerak linear menuju negara. Melalui hijrah, gerakan itu “menegara”, dan Madinah adalah wilayahnya. Kalau individu membutuhkan aqidah maka negara membutuhkan perangkat sistem. Setelah komunitas Muslim menegara, dan mereka memilih Madinah sebagai wilayahnya, Allah SWT menurunkan perangkat sistem yang mereka butuhkan. Turunlah ayat-ayat hukum dan berbagai kode etik sosial, ekonomi, politik, keamanan dan lain-lain. Lengkaplah sudah susunan kandungan sebuah negara: manusia, tanah, dan sistem. 
    Apa yang kemudian dilakukan Rasulullah SAW sebenarnya relatif mirip dengan semua yang mungkin dilakukan para pemimpin politik yang baru mendirikan negara. Pertama, membangun infrastruktut negara dengan masjid sebagai simbol dan perangkat utamanya. Kedua, menciptakan kohesi sosial melalui proses persaudaraan antarkomunitas darah yang berbeda tapi menyatu sebagai komunitas agama, antara sebagian komunitas “Quraisy” dan “Yatsrib” menjadi komunitas “Muhajirin” dan “Anshar”. Ketiga, membuat nota kesepakatan untuk hidup bersama dengan komunitas lain yang berbeda, sebagai sebuah masyarakat pluralistik yang mendiami wilayah yang sama, melalui piagam Madinah. Keempat, merancang sistem pertahanan negara melalui konsep Jihad fi Sabilillah.
     Lima tahun pertama setelah hijrah kehidupan dipenuhi oleh kerja keras Rasulullah SAW beserta para shahabat beliau untuk mempertahankan eksistensi dan kelangsungan hidup negara Madinah. Dalam kurun waktu itu, Rasulullah SAW telah melakukan lebih dari 40 kali peperangan dalam berbagai skala. Yang terbesar dari semua peperangan itu adalah perang Khandaq, di mana kaum Muslimin keluar sebagai pemenang. Setelah itu tidak ada lagi yang terjadi di sekitar Madinah karena semua peperangan sudah bersifat ekspansif. Negara Madinah membuktikan kekuatan dan kemandiriannya, eksistensinya, dan kelangsungannya.
     Di sini, kaum Muslimin telah membuktikan kekuatannya, setelah sebelumnya kaum Muslimin membuktikan kebenarannya. Jadi, yang dilakukan oleh Rasulullah SAW pada tahapan ini adalah menegakkan negara. Sebagai sebuah bangunan, negara membutuhkan dua bahan dasar: manusia dan sistem. Manusialah yang akan mengisi suprastruktur. Sedangkan sistem adalah perangkat lunak, sesuatu dengan apa negara bekerja. Islam adalah sistem itu. Oleh karena itu Islam bersifat given. Tapi, manusia adalah sesuatu yang dikelola dan dibelajarkan sedemikian rupa hingga sistem terbangun dalam dirinya, sebelum kemudian mengoperasikan negara dalam sistem tersebut. Untuk itulah Rasulullah SAW memilih manusia-manusia terbaik yang akan mengoperasikan negara itu. Selain kedua bahan dasar negara itu, juga perlu ada bahan pendukung lainnya. Pertama, tanah. Tidak ada negara tanpa tanah. Tapi, dalam Islam, hal tersebut merupakan infrastruktur pendukung yang bersifat sekunder sebab tanah merupakan benda netral, yang akan mempunyai makna ketika benda tersebut dihuni oleh manusia dengan cara hidup tertentu.
     Selain berfungsi sebagai ruang hidup, tanah juga merupakan tempat Allah menitip sebagian kekayaan-Nya yang menjadi sumber daya kehidupan manusia. Kedua, jaringan sosial. Manusia sebagai individu hanya mempunyai efektifitas ketika ia terhubung dengan individu lainnya secara fungsional dalam suatu arah yang sama. Itulah perangkat utama yang diberikan untuk menegakkan negara; sistem, manusia, tanah, dan jaringan sosial. Apabila ke dalam unsur-unsur utama itu kita masukkan unsur ilmu pengetahuan dan unsur kepemimpinan maka keempat unsur utama tersebut akan bersinergi dan tumbuh secara lebih cepat. Walaupun, secara implisit, sebenarnya unsur ilmu pengetahuan sudah masuk ke dalam sistem dan unsur kepemimpinan sudah masuk ke dalam unsur manusia. Itulah semua yang dilakukan oleh Rasulullah SAW selama tiga belas tahun berdakwah dan membina sahabat-sahabatnya di Makkah; menyiapkan semua perangkat yang diperlukan dalam mendirikan sebuah negara yang kuat. Hasil dakwah dan pembinaan itulah yang kemudian tumpah ruah di Madinah dan mengkristal secara sangat cepat. Begitulah transformasi itu terjadi. Ketika gerakan dakwah menemui kematangannya, ia menjelma jadi negara; ketika semua persyaratan dari sebuah negara kuat telah terpenuhi, negara itu tegak di atas bumi, tidak peduli di belahan bumu manapun ia tegak. Proses transformasi ini memang terjadi sangat cepat dan dalam skala yang sangat besar. Tapi, proses ini sekaligus mengajari kita dua hakikat besar: pertama, tentang hakikat dan tujuan dakwah serta strategi perubahan sosial. Kedua, tentang hakikat negara dan fungsinya. Perubahan Sosial Tujuan dakwah adalah mengejawantahkan kehendak-kehendak Allah SWT –yang kemudian kita sebut agama, tau syariah- dalam kehidupan manusia. 
    Syariah itu sesungguhnya merupakan sistem kehidupan yang integral, sempurna, dan universal. Karena manusia yang akan melaksanakan dan mengoperasikan sistem tersebut maka manusia harus disiapkan untuk peran itu. Secara struktural, unit terkecil yang ada dalam masyarakat manusia adalah individu. Itulah sebabnya, perubahan sosial harus dimulai dari sana; membangun ulang susunan keribadian individu, mulai dari cara berpikir hingga cara berperilaku. Setelah itu, individu-individu itu harus dihubungkan satu sama lain dalam suatu jaringan yang baru, dengan dasar ikatan kebersamaan yang baru, identitas kolektif yang baru, sistem distribusi sosial ekonomi politik yang juga baru. Begitulah Rasulullah SAW memulai pekerjaannya. 
    Beliau melakukan penetrasi ke dalam masyarakat Quraisy dan merekrut orang-orang terbaik di antara mereka. Menjelang hijrah ke Madinah, beliau juga merekrut orang-orang terbaik dari penduduk Yatsrib. Maka terbentuklah sebuah komunitas baru di mana Islam menjadi basis identitas mereka, aqidah menjadi dasar ikatan kebersamaan mereka, ukhuwah menjadi sistem jaringan mereka, dan keadilan menjadi prinsip dstribusi sosial-ekonomi-politik mereka. Tapi, perubahan itu bermula dari sana; dari dalam individu, dari dalam pikiran, jiwa dan raganya. Model perubahan sosial seperti itu mempunyai landasan pada sifat natural manusia, baik sebagai individu maupun sebagai masyarakat. Perubahan mendasar akan terjadi dalam diri individu jika ada perubahan mendasar pada pola pikirnya karena pikiran adalah akar perilaku. Masyarakat juga begitu. Ia akan berubah secara mendasar jika individu-individu dalam masyarakat itu berubah dalam jumlah yang relatif memadai.
     Tapi, model perubahan ini selalu gradual dan bertahap. Prosesnya lebih cenderung evolusioner, tapi dampaknya selalu bersifat revolusioner. Inilah makna firman Allah SWT “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’d:11) Fungsi Negara Dalam konsep politik Islam, syariat atau kemudian kita sebut sistem atau hukum, adalah sesuatu yang sudah ada, given. Negara adalah institusi yang diperlukan untuk menerapkan sistem tersebut. Inilah perbedaan mendasar dengan negara sekuler, di mana sistem atau hukum mereka adalah hasil dari produk kesepakatan bersama karena hal tersebut sebelumnya tidak ada. Sebagai institusi, bentuk negara selalu berubah mengikuti perubahan-perubahan struktur sosial dan budaya masyarakat manusia.
     Dari bentuk negara kerajaan, parlementer, hingga presidensiil. Skala negara juga berubah mengikuti perubahan struktur kekuatan antarnegara, dari imperium besar ke negara bangsa, dan barangkali, yang sekarang jadi mimpi pemerintahan George W. Bush junior di Amerika: negara dunia atau global state. Struktur etnis dan agama dalam sebuah negara juga bisa tunggal dan majemuk. Oleh karena itu semua merupakan variabel yang terus berubah, dinamis, dan tidak statis, maka Islam tidak membuat batasan tertentu tentang negara. Bentuk boleh berubah, tapi fungsinya tetap sama; institusi yang mewadahi penerapan syariat Allah SWT. Itulah sebabnya bentuk negara dan pemerintahan dalam sejarah Islam telah mengalami berbagai perubahan; dari sistem khilafah ke kerajaan dan sekarang berbentuk negara bangsa dengan sistem yang beragam dari monarki, presidensiil, dan parlementer. Walaupun tentu saja ada bentuk yang lebih efektif menjalankan peran dan fungsi tersebut, yaitu sistem khilafah yang sebenarnya lebih mirip dengan konsep global state. 
    Tapi, efektifitasnya tidaklah ditentukan semata oleh bentuk dan sistem pemerintahannya, tapi terutama oleh suprastrukturnya, yaitu manusia. Namun demikian, kita akan melakukan kesalahan besar kalau kita menyederhanakan makna negara Islam dengan membatasinya hanya dengan pelaksanaan hukum, pidana dan perdata, serta etika sosial politik lainnya. Persepsi ini yang membuat negara Islam lebih berciri moral ketimbang ciri lainnya. Yang perlu ditegaskan adalah bahwa syariat Allah itu bertujuan memberikan kebahagiaan kepada manusia secara sepurna; tujuan hidup yang jelas, yaitu ibadah untuk mendapatkan ridha Allah SWT serta rasa aman dan kesejahteraan hidup. Hukum-hukum Islam dalam bidang pidana dan perdata sebenarnya merupakan sub-sistem. Tapi, dampak penerapan syariah tersebut pada penciptaan keamanan dan kesejahteraan hanya dapat muncul di bawah sebuah pemerintahan yang kuat. Hal itu bertumpu pada manusia. Hanya “orang kuat yang baik” yang bisa memberikan keadilan dan menciptakan kesejahteraan, bukan orang yang baik. Bagaimanapun, hanya orang kuat dan baik yang dapat menerapkan sistem Allah secara sempurna.
     Inilah makna hadits Rasulullah SAW “laki-laki mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada laki-laki mukmin yang lemah.” Alangkah dalamnya penghayatan Umar bin Khattab tentang masalah ini ketika berdoa, “Ya Allah lindungilah kami dari orang yang bertaqwa yang lemah dan tidak bertaqwa yang lemah dan tidak berdaya, dan lindungilah kami dari orang-orang jahat yang perkasa dan tangguh.” Inilah sesungguhnya misi gerakan Islam: melahirkan orang-orang baik yang kuat atau orang-orang kuat yang baik. [Anis Matta]

Mengenal Politik Dalam Islam

Ilmu atau teori politik Islam bersumber dan diderivasi dari Alquran. Mungkin ini dianggap klaim berlebihan, tetapi sebenarnya tidak juga. Se...